MEDIA CENTER REJANG LEBONG – Prosesi adat Kedurei Sudut resmi mengawali rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Curup ke-146 yang digelar di rumah dinas bupati, Sabtu, 23 Mei 2026 pukul 16.00 WIB. Tradisi sakral masyarakat Rejang ini berlangsung khidmat dan penuh nuansa budaya leluhur.

Prosesi Kedurei Sudut dipimpin langsung Ketua Badan Musyawarah Adat (BMA) terpilih, Ir. Ahmad Faizir, MM, dengan ritual adat dipandu piawang adat, Syafri.

Acara dihadiri Plt Bupati Rejang Lebong, Dr. H. Hendri, SSTP, MSi, Ketua DPRD Juliansyah Yayan, Asisten I Setdakab Bobby Harpa Santana, SSTP, MSi, Asisten III Setdakab Elva Mardiana, SIP, MM, Kadis Dikbud Zakaria Effendi, MPd, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta jajaran BMA Kabupaten Rejang Lebong.

Prosesi dimulai dengan pembacaan doa adat. Setelah itu, Ketua BMA memberikan percikan setawar sedingin di bagian kepala, tangan, dan kaki Plt Bupati sebagai simbol penyucian diri, keselamatan, dan restu adat. Ritual kemudian dilanjutkan dengan penyematan selendang songket di bahu Plt Bupati Hendri.

“Saya merasa sangat terharu dengan prosesi adat ini. Saya sampai merinding. Sudah lama sekali saya tidak mencium aroma kemenyan. Dulu nenek saya sering melaksanakan prosesi ini,” ujar Hendri.

Menurutnya, Kedurei Sudut bukan sekadar seremoni pembukaan HUT Kota Curup, tetapi menjadi pengingat bahwa identitas masyarakat Rejang Lebong berakar kuat pada nilai adat dan budaya.

“Melalui Kedurei Sudut ini kita mempererat silaturahmi, meluruskan niat dan menyatukan langkah untuk membangun daerah. Tema yang kita angkat tahun ini adalah ‘Bersama Kita Lestarikan Budaya, Wujudkan Rejang Lebong Bahagia dan Istimewa’. Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong berkomitmen terus mendukung program pelestarian budaya, mulai dari penguatan kelembagaan adat, fasilitasi kegiatan budaya hingga pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tutur Hendri.

Ia juga mengajak masyarakat menjadikan momentum HUT Kota Curup ke-146 sebagai ajang refleksi dan konsolidasi untuk membangun daerah yang lebih maju tanpa meninggalkan akar budaya.

 

Keturunan Pangeran Egok

Dalam kesempatan tersebut, Ketua BMA terpilih, Ir. Ahmad Faizir, MM, mengungkapkan bahwa Plt Bupati Hendri merupakan keturunan dari Pangeran Egok, tokoh bangsawan adat legendaris Rejang Lebong.

“Plt Bupati Dr. H. Hendri, SSTP, MSi merupakan keturunan dari Pangeran Egok bergelar Pangeran Mangku Negeri yang memerintah wilayah Sindang Kelingi dan Lembak,” jelas Ahmad Faizir.

Ia juga menyampaikan bahwa BMA berencana menganugerahkan gelar adat kepada Plt Bupati Hendri beserta istri pada Agustus atau Desember 2026 mendatang.

 

Pangeran Egok dalam Sejarah Rejang

Pangeran Egok merupakan nama besar dalam sejarah adat Rejang Lebong. Nama aslinya adalah Kafidin bin Bun yang bergelar Pangeran Mangku Negeri. Ia berasal dari keturunan bangsawan asli suku Rejang dari Marga Sindang Kelingi dan lahir pada abad ke-19.

Dalam sejarah masyarakat Rejang, Pangeran Egok dikenal sebagai Pesirah atau kepala marga yang memimpin wilayah luas mulai dari Sindang Kelingi hingga Binduriang. Ia dikenal sebagai pemimpin kharismatik yang menggabungkan hukum adat Rejang dengan nilai-nilai Islam.

Pusat pemerintahan adatnya berada di Kampung Jeruk yang kini dikenal sebagai kawasan Kampung VIII, Kepala Curup. Pada masa kepemimpinannya, filosofi Batu Tri Sakti menjadi simbol penting penegakan hukum adat, agama, pemerintahan, dan norma kesusilaan masyarakat Rejang.

Menurut catatan sejarah lokal, Pangeran Egok wafat sekitar tahun 1954 dalam usia yang sangat lanjut. Kepemimpinannya kemudian diteruskan oleh keturunannya sebelum sistem pemerintahan adat bertransformasi ke pemerintahan modern.

 

Ritual Kedurei Sudut

Sementara itu, piawang adat Syafri menjelaskan bahwa Kedurei Sudut merupakan ritual pembuka seluruh rangkaian HUT Kota Curup dan memiliki makna spiritual mendalam bagi masyarakat Rejang.

“Kedurei Sudut dilengkapi berbagai perlengkapan adat seperti tiga ayam sila terdiri dari ayam biring, ayam hitam kumbang, dan ayam tiga ragi, empat macam bubur, sirih, rokok, telur ayam, serta ruas bambu gaing berisi air kelapa,” terang Syafri.

Selain itu, ritual juga menggunakan sembilan jenis air yang diambil dari sembilan sumber sungai berbeda di wilayah Rejang Lebong, yakni Air Dendan, Air Simpang, Air Musi, Air Putih, Air Tenong, Air Pikat, Air Lang, Air Duku, dan Air Susup.

“Kita berharap melalui Kedurei Sudut ini seluruh rangkaian HUT Kota Curup ke-146 dapat berjalan aman, lancar, dan membawa keberkahan bagi masyarakat Rejang Lebong,” demikian Syafri.

Prosesi adat kemudian ditutup dengan santap bersama seluruh tamu undangan, tokoh adat, dan masyarakat yang hadir.(mcrl/rahman/bisma/dero/hengky)