Pendekatan STBM, Solusi Meningkatkan Kepemilikan Jamban Sehat di Rejang Lebong

Istilah STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) merupakan adopsi dari program CLTS (Community Led Total Sanitation), yang handbook terjemahan Bahasa Indonesia versi pdfnya bisa dibaca di sini,  telah lama diperkenalkan di beberapa Negara Afrika (tepatnya Bangladesh) dan India. Menkes kemudian membuat SK Menkes tentang  gerakan STBM. Pendekatan STBM ini telah diujicobakan di beberapa daerah yang mempunyai proyek WSLIC seperti di Lumajang. Khusus untuk kabupaten Rejang Lebong, STBM mulai diperkenalkan pertengahan tahun 2008 dan diujicobakan di wilayah  desa proyek CWSH serta disosialisaikan di wilayah kumuh perkotaan Curup, terutama seperti kondisi sanitasi yang buruk di kelurahan Kepala Siring, Pasar Tengah dan Talang Benih.

WC

Merujuk pada konsep STBM, awalnya didasari atas pengalaman proyek-proyek pembangunan sanitasi di masa lalu yang ternyata :

    • Banyaknya proyek sanitasi yang gagal, seperti sarana yang dibangun tidak digunakan dan tidak dipelihara oleh masyarakat

 

    • Menurunnya kepedulian masyarakat terhadap persoalan sanitasi pasca proyek

 

    • Tidak adanya kebersamaan masyarakat dalam menanggulangi persoalan sanitasi

 

  • dan kecenderungan masyarakat terhadap uluran subsidi pemerintah

Intinya, sebenarnya apa sih STBM ?

STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) merupakan suatu pendekatan untuk menginisasi/memicu (ignite/trigger) rasa jijik dan malu masyarakat atas kondisi sanitasi dimana mereka buang air besar ditempat terbuka (open defecation) sehingga pada akhirnya mereka mencari solusi secara bersama untuk mengubah kondisi mereka.

Hal tersebut didasarkan atas asumsi dasar bahwa ternyata :

    • Tidak ada seorangpun yang tidak tergerak apabila mereka mengetahui bahwa mereka telah saling memakan kotoran mereka satu dengan yang lainnya (eating each other shit).

 

    • STBM memicu masyarakat untuk menyadari bahwa masalah sanitasi merupakan tanggung jawab mereka sehingga hanya akan selesai dengan kesadaran dan usaha mereka sendiri, tidak ada hubungan dengan subsidi.

 

  • Upaya memicu perubahan perilaku masyarakat secara massal (ini yang paling susah)

Jadi tujuan utamanya adalah terjadinya perubahan perilaku masyarakat agar sesuai dengan konsep PHBS.! Bukan dari banyaknya jamban yang bias dibangun! Istilahnya bebas dari Open Defecation Free (ODF).

Jadi STBM sama sekali berbeda dengan proyek-proyek sanitasi sebelumnya, di mana perencanaan proyek lebih top to down, ada subsidi, bestek dll. Dengan model STBM, diharapkan pendekatannya bukan proyek, bahkan lebih fleksibel dan bottom to up, menggunakan solidaritas social dan pemberdayaan masyarakat, sesuai dengan kepentingan dan perencanaan local. Diperlukan fasilitator yang energik yang bisa memotivasi orang untuk bergerak. Alat-alat yang digunakan bisa berupa diagram, peta, model, dan alat peraga lainnya sebagai alat bantu untuk “pencerahan“.

Dengan demikian kunci utamanya adalah pada peranan fasilitator, atau tepatnya motivator. Namun tidak perlu sekelas Mario Teguh, Tung Desem Waringin atau AA Gym, yang penting komunikatif dan punya kemampuan melakukan presentasi (mungkin mantan sales MLM pun bisa lho). Hal itu biasa dilakukan oleh guru, ustad atau tokoh masyarakat yang berpengaruh, lebih baik lagi tenaga kesehatan. Motivator harus supel dan tidak ada jarak social dengan masyarakat!

Motivator ini perlu membuat agenda dan memetakan daerah sasaran, menggalang partisipasi masyarakat di lokasi dan kemudian melakukan motivasi (dengan orasi yang terjaga) dan melakukan igniting atau triggering  (memprovokasi atau memicu ) masyarakat, dengan dibuat jijik atau malu dan jadi lebih peduli pada lingkungan tempat tinggalnya. Karena melakukan BAB di siring itu adalah dosa besar, karena mencemari seluruh ekosistem perairan dan lingkungan sekitar! Memindahkan kebiasaan dari BAB di siring ke WC yang sehat (minimal), bisa dibuat kolektif, syukur2 bisa WC untuk keluarga/pribadi.

Untuk membuat WC, sebisa mungkin tidak menggunakan  fasilitas  atau duit pemerintah, kecuali ada sponsor, dan tentu saja yang terbaik gunakan dana  sendiri atau gotong royong masyarakat

Komentar Facebooker

komentar FB


Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>