Cegah Radikalisme, Kesbangpol Linmas Gelar Pertemuan

Di beberapa daerah, hadirnya organisasi yang diindikasi “radikal”, ternyata dapat mengancam keutuhan NKRI. Mengantisipasi dan mewaspadai munculnya organisasi tersebut di kabupaten RL, Badan Kesbangpol dan Linmas RL, pada hari Senin, 26/3/2012 kemarin, menggelar pertemuan dengan tema “Antisipasi Pengaruh Organisasi Radikal“, bertempat di gedung Pola, pemdakab Rejang Lebong. Pertemuan tersebut dihadiri oleh mahasiswa, LSM, para camat, kepala dinas/instansi terkait dan unsur FKPD Rejang Lebong. Bertindak sebagai nara sumber adalah Polres Rejang Lebong yang diwakili oleh Daharsan, Kodim 0409/RL Mayor infanteri Agus Salim, dan Kasi Penamas Kementerian Agama di RL, Kadar Najmidin.

Pertemuan dibuka oleh wakil bupati, Slamet Diyono, SE. Dalam arahannya, wabup merasa prihatin dengan makain menurunnya semangat kebangsaan, terutama sejak bergulirnya reformasi. Menurutnya, secara perlahan-lahan rasa kebangsaan sebagai anggota atau warga dikalahkan dengan kepentingan masing-masing atau kelompok/golongan. Bahkan ada beberapa kelompok atau golongan yang memaksakan kehendak menurut pahamnya mereka, dengan menggunakan kekuatan fisik dan kekerasan. Ini adalah paham radikalisme, yang pada akhirnya akan menimbulkan perpecahan, anarkis dan bahkan teror.

Menurut wabup, masyarakat perlu dibentengi dengan pengetahuan yang benar tentang organisasi yang mengarah radikal, agar masyarakat secara sadar dapat memahami dan menilai perkembangan yang terjadi di lingkungannya, guna terpeliharanya rasa persatuan bangsa.

Berdasar keterangan Kepala Badan Kesbangpol Linmas, Makhran, SP, di kabupaten Rejang Lebong sampai sekarang belum ditemukan organisasi masyarakat yang menjurus ke radikalisme. Untuk itulah pertemuan ini dilakukan, dalam rangka menyamakan persepsi tentang radikalisme dan mengantisipasinya agar tidak berkembang di Rejang Lebong.

Berikut foto-fotonya :

Wabup memberikan arahan

Peserta pertemuan

Kodim RL memberikan presentasi

Komentar Facebooker

komentar FB


Comments

Cegah Radikalisme, Kesbangpol Linmas Gelar Pertemuan — & Komentar

  1. FENOMENA RADIKALISME
    Radikalisme saat ini telah menjadi fenomena menarik dan isu yang cukup penting. Fakta menunjukkan bahwa radikalisme dapat tumbuh dan berkembang di berbagai situasi dan telah mengarah ke radikalisme bercorak agama. Kasus-kasus terkait seperti dengan Ahmadiyah, bom di masjid Polresta Cirebon, bom buku, perekrutan anggota NII dengan cara cuci otak dan lain-lain adalah fakta yang terkait dengan radikalisme agama. Keadaan dan kondisi seperti itu bagi sementara orang menyebutnya sebagai telah muncul radikalisme agama. Fenomena itu selain menggelisahkan banyak pihak, juga mendorong orang untuk mencari jawaban tentang faktor-faktor penyebab munculnya radikalisme agama tersebut. Adakah kaitan antara kurangnya rasa nasionalisme dan kondisi kebobrokan bangsa saat ini sebagai faktor penyebab munculnya radikalisme? Apakah radikalisme tersebut juga sebagai faktor penyebab munculnya kufar terorisme?

    Berkembangnya radikalisme di Indonesia adalah suatu kenyataan sosio-historis dalam negara majemuk, tetapi juga bisa menjadi ancaman bagi masa depan bangsa yang mendambakan keamanan dan kedamaian. Ada hubungan yang paralel antara radikalisme agama dan aksi kekerasan. Karena secara teoretis, radikalisme muncul dalam bentuk aksi penolakan, perlawanan, dan keinginan untuk mengubah sesuai dengan doktrin. Menurut Horace M Kallen, radikalisasi ditandai oleh tiga kecenderungan umum.

    Pertama, radikalisasi merupakan respons terhadap kondisi yang sedang berlangsung. Biasanya respons tersebut muncul dalam bentuk evaluasi, penolakan, atau bahkan perlawanan. Masalah-masalah yang ditolak dapat berupa asumsi, ide, lembaga, atau nilai-nilai yang dapat dipandang bertanggung jawab terhadap keberlangsungan terhadap kondisi yang ditolak.
    Kedua, radikalisasi tidak berhenti pada upaya penolakan, melainkan terus berupaya mengganti tatanan tersebut dengan suatu bentuk tatanan lain. Ciri ini menunjukkan bahwa di dalam radikalisasi terkandung suatu ideology atau pandangan dunia (world view) tersendiri. Kaum radikalis berupaya kuat untuk menjadikan tatanan tersebut sebagai ganti dari tatanan yang sudah ada.
    Dan ketiga, kuatnya keyakinan kaum radikalis akan kebenaran ideologi yang mereka bawa. Sikap ini pada saat yang sama dibarengi dengan penafian kebenaran dengan sistem lain yang akan diganti. Dalam gerakan sosial, keyakinan tentang kebenaran program atau filosofi sering dikombinasikan dengan cara-cara pencapaian yang mengatasnamakan nilai-nilai ideal seperti kerakyatan atau kemanusiaan. Akan tetapi, kuatnya keyakinan ini dapat mengakibatkan munculnya sikap emosional yang menjurus pada kekerasan.
    Demikian juga kenyataan sosial yang sangat plural dan tanpa kesadaran berdemokrasi telah menciptakan persaingan antar-etnis, dan sektarianisme yang tak terelakkan untuk memperebutkan akses politik dan ekonomi. Celakanya, civil society sebagai komunitas politik di mana masyarakat membagi norma-norma dan nilai-nilai guna membangun konsensus bersama atas dasar kemajemukan, kebebasan, dan kesetaraan, ternyata demikian rapuh. Dr. Harun Yahya dalam bukunya Islam Denounces Terrorism mengatakan: “…..Radicalism means supporting sudden revolutionary destructive changes in any sphere and applying a strict uncompromising policy in order to achieve them. Radicals are characterised by their desire for revolutionary change and the stern, sometimes aggressive attitude they adopt. ~ Suriah kabar terkini

    Oleh karena itu maka, radikalisme adalah sebagai buah dari suasana atau iklim sosial yang tidak kondusif. Suasana yang tidak menentu, penuh intrik dan konflik, tidak adanya kejujuran serta keadilan, saling menjatuhkan, dan lain-lain, akan mudah melahirkan sikap-sikap negatif, sebagaimana digambarkan di muka. Sehingga untuk mengatasi hal itu, maka yang diperlukan adalah gerakan penyadaran terhadap semua pihak, bahwa kekerasan, kegelisahan, dan suasana yang tidak menentu, akan melahirkan suasana batin yang tidak sehat, dan akhirnya, akan berbuah, ——di antaranya, adalah sikap radikal, termasuk radikalisme agama.
    (Mayor Inf Drs. Supriyatno, Mantan Kasdim 0409/RL Korem 041/Gamas)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>